Tugas Admin Jaringan ( Semester 4 )
WLAN
WLAN adalah singkatan dari Wireless Local Area Network yaitu suatu jenis jaringan komputer yang menggunakan gelombang radio sebagai alat atau media transmisi data. Informasi atau data ditransfer dari satu komputer ke komputer yang lainnya menggunakan gelombang radio. WLAN juga sering disebut dengan Jaringan Nirkabel atau jaringan wireless.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari
Penerapan dari aplikasi WLAN ini sudah mulai banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari karena kemudahan instalasinya, dan kelebihan-kelebihan lainnya dibandingkan LAN kabel, diantaranya telah digunakan untuk :
1. Jaringan nirkabel di perusahaan, sehingga produktivitas meningkat, karena karyawan dapat selalu tersambung ke internet dalam keadaan mobile.
2. Jaringan nirkabel di instansi-instansi pemerintahan
3. Jaringan nirkabel di sekolah-sekolah umum dan perguruan tinggi.
4. Jaringan nirkabel di kafe, warung makan, atau konter-konter yang menyediakan layanan “Hotspot” bagi para pengunjung.
5. Di alat-alat komunikasi, seperti Handphone, dan HT.
Klasifikasi jaringan WLAN
1. Klasifikasi berdasarkan topologi jaringan
Topologi dalam suatu jaringan dapat didefinisikan sebagai aturan atau cara menghubungkan komputer (device) satu dengan yang lain sehingga membentu suatu jaringan. Dapat dikatakan pula bahwa topologi merupakan gambaran secara fisik dari pola hubungan antara komputer yang saling berkomunikasi. Kapanpun dua atau lebih komputer saling berkomunikasi satu sama lain, topologi jaringan secara otomatis akan terbentuk. Tidak seperti jaringan kabel yang memiliki banyak topologi, jaringan nirkabel hanya mempunyai dua topologi. Berdasarkan standar IEEE 802.11 yang menangani Wireless LAN (WLAN) & Mesh (Wi-Fi Certification).
2. Klasifikasi berdasarkan jarak jangkauan
Berdasarkan jarak jangkauan jaringan dan daya sinyal nirkabel, maka teknologi nirkabel dikelompokkan menjadi 4 jenis yaitu Wide Area Network (WAN), Metropolitan Area Network (MAN), Local Area Network (LAN), Personal Area Network (PAN).
Jenis-jenis topologi yang digunakan pada jaringan wireless
Topologi pada jaringan LAN (via kabel)tentu berbeda dengan jaringan WLAN (via wireless). Meski secara prinsip sama-sama menghubungkan komputer dengan komputer, namun media transmisi yang digunakan menyebabkan adanya perbedaan jenis topologi antara kedua jaringan ini.
Teknologi yang digunakanoleh jaringan WLAN dan LAN juga berbeda, jika pada WLAN menggunakan teknologi wireless (IEEE 802.11) sedangkan jaringan LAN menggunakan teknologi ethernet (IEEE 802.3). Menurut standar IEEE untuk WLAN ada dua model topologi utama, yaitu:
1. Independent Basic Service Set (IBBS)
AdHoc sering disebut Independent Basic Service Set (IBBS). Jaringan AdHoc terbentuk bila antara client wireless yang dilengkapi dengan wireless LAN Card saling terhubung satu sama lain secara langsung. Pada jaringan ini tidak memerlukan perantara seperti access point atau perangkat lainnya. Topologi Adhoc ini memiliki beberapa kelemahan. Jika client yang terhubung semakin banyak, maka proses transmisi data akan semakin lambat. Kelemahan lainnya, karena tidak adanya access point yang dijadikan consentrator pada topologi ini, menyebabkan tidak adanya perangkat yang bisa mengatur wireless client yang tekoneksi. Collusion atau tabrakan pun sangat mungkin terjadi.
2. Basic Service Set (BSS)
Koneksi antar wireless client pada topologi ini diperantarai oleh sebuah perangkat access point. Setiap wireless client yang ingin terhubng dengan client lainnya harus terhububung dulu dengan access point yang digunakan.
3. Extended Service Set (ESS)
Pada topologi ESS terdapat lebih dari satu access point yang digunakan. Tujuannya adalah untuk menjangkau area yang lebih jauh lagi. Jadi, bisa dikatakan topologi ESS ini merupakan gabungan atau kumpulan dari topologi BSS.
Pada topologi BSS atau ESS, kita bisa memadukannya dengan jaringan kabel. Koneksi ini biasa disebut infrastruktur, dimana wireless client dapat terhubng dan berkomunikasi dengan client lain pada jaringan kabel.
Arsitektur jaringan WLAN
Arsitektur aplikasi adalah teknologi yang akan digunakan oleh satu, lebih, atau semua sistem informasi dalam hal data, proses, interface, dan komponen jaringan. Ini berfungsi sebagai kerangka kerja untuk desain umum. Arsitektur teknologi informasi atau bisa juga disebut dengan arsitektur system informasi, yaitu:
1. Arsitektur Client / Server merupakan software, dan interface yang didistribusikan di seluruh jaringan klien dan server yang berkomunikasi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan sistem. Pengertian dari klien itu sendiri adalah adalah single user-komputer yang melakukan sesuatu permintaan data atau layanan ke server sedangkan server adalah multiple-user computer yang menyediakan data atau layanan yang diminta oleh client.
2. Arsitektur Terpusat (Centralized)/komputasi terpusat adalah pemrosesan data yang terpusat. proses arsitektur terpusat paling dominan karena biaya menempatkan computer mendekati end-user adalah mahal.
3. Arsitektur Terdistribusi (Distributed)/komputasi tersebar merupakan system pemrosesan data terdistribusi atau yang terdiri dari sejumlah computer yang tersebar pada berbagai lokasi yang dihubungkan dengan sarana telekomunikasi. Arsitektur terdistribusi terdiri dari 3 jenis yaitu distributed presentation, distributed data serta distributed data and logic. distributed presentation merupakan pendekatan yang menempatkan Semua elemen lain dari aplikasi terpusat tetap di server, namun user sistem mendapatkan grafis user interface yang ramah untuk sistem Pengertian dari distributed data adalah proses menempatkan data sistem informasi yang tersimpan di server, dan logika bisnis dan user interface pada klien. Sedangkan distributed data and logic merupakan Pendekatan yang mendistribusikan database dan logika bisnis ke server yang terpisah.
Perangkat Jaringan yang Dibutuhkan Untuk Membangun Wireless Network
1. Wireless Network Adapter
Kalau perangkat ini berada pada sisi client. Setiap client harusnya menyediakan minimal satu buah wireless network adapter untuk bisa terkoneksi ke jaringan via Wi-Fi. Semua laptop keluaran baru sudah built-in dengan perangkat ini. Namun untuk kamu pengguna PC desktop, kamu mesti menambahkan perangkat tersebut, karena biasanya tidak ada desktop yang dilengkapi wireless adapter. Ada dua macam wireless adapat yang bisa digunakan, yaitu berbentuk slot PCI dan USB.
2. Wireless Router / Wireless Access Point
Sama seperti pada jaringan kabel, kedua perangkat ini memiliki fungsi yang hampir sama dengan router atau switch, hanya saja media yang digunakan adalah wireless. Untuk jaringan rumahan yang tidak terlalu besar, saya rasa cukup bila menggunakan satu perangkat ini. Terlebih jika perangkat wireless ini sudah support teknologi band yang terbaru, bisa menjangkau sebagian besar bangunan di sekita rumah. Untuk lokasi bisnis atau perkantoran, saya rasa membutuhkan lebih dari satu perangkat untuk kenyamanan koneksinya.
3. Antenna Wireless
Biasanya wireless router sering memanfaatkan antenna untuk menambahkan ruang jangkaunya. Antenna ini sifatnya opsional alias dapat dilepas-pasang. Kamu bisa menggunakannya jika ingin jangkauannya luas. Selain di sisi router, di sisi client juga bisa saja membutuhkan antenne. Fungsinya ketika tidak dapat menjangkau sinyal yang dipancarkan wireless router, dengan bantuan antena, wireless adapter bisa menjangkaunya.
4. Wireless Repeater
Sebuah wireless repeater dihubungkan pada wireless router atau wireless access point. Fungsinya adalah untuk menguatkan sinyal yang mulai melemah jika berada di jangkauan yang jauh dari pusat. Hal ini sangat membantu client yang kesulitan menjangkau wireless router atau access point.
Sumber:
Membuat 3 Jaringan dengan 3 Router di Cisco Packet Tracer
Tugas LAB Jaringan Komputer Pak Aprih APZ
Tutorial Membuat 3 Jaringan dengan 3 Router
di Cisco Packet Tracer
di Cisco Packet Tracer

- Buka aplikasi Cisco Packet Tracer terlebih dahulu

2. Siapkan 2 buah PC, 1 Switch, 1 Router (2620XM), dan 1 Server di masing-masing jaringan. Hubungkan memakai kabel Automatically choose Connection Type

3. Lakukan hal yang sama seperti langkah ke-2 pada dua jaringan lainnya. Kita anggap sebelah kiri A , tengah B, dan Kanan C

4. Tambahkan port serial pada semua router. Klik Router – Physical– Turn off – pilih NM-4A/S – Turn on. Lakukan pada semua router.

5. Hubungkan masing-masing router dengan kabel Serial DTE , pilih port serial pada router.


6. Maka tampilannya akan seperti gambar berikut.

7. Kita setting Server A terlebih dahulu. Klik Server A – Desktop – Ip Configuration – Ip Address 192.168.1.2 – Subnet Mask 255.255.255.0– Default Gateway 192.168.1.1.

8. Kita akan jadikan Server A sebagai DHCP server. Klik Server A – Service – DHCP – service on – Default Gateway 192.168.1.1 – Start Ip Address 192.168.1.3 – Maximum number of users 10 – lalu Save.

9. Klik PC0 – Desktop – Ip Configuration – klik DHCP , maka secara otomatis Ip address akan terisi sendiri.

10. Lakukan hal yang sama pada PC1. Klik PC1 – Desktop – Ip Configuration – klik DHCP , maka Ip address akan terisi sendiri.

11. Selanjutnya kita setting router di daerah A. klik Router – Config – FastEthernet 0/0 – Ip Address 192.168.1.1 – Subnet Mask 255.255.255.0 – Port Status On.

12. Kemudian kita beralih ke Server B. Klik Server B – Desktop – Ip Configuration – Ip Address 172.168.1.2 – Subnet Mask 255.255.0.0 – Default Gateway 172.168.1.1

13. Kita jadikan Server B sebagai DHCP. Klik Server B – Services –DHCP – Service on – Default Gateway 172.168.1.1 – Start Ip Address 172.168.0.3 – Maximum number of users 10 – Save.

14. Kita setting PC di daerah B. Klik PC2 – Desktop – Ip configuration – klik DHCP maka Ip address akan terisi otomatis.

15. Ulangi langkah sebelumnya pada PC3. Klik PC3 – Desktop – Ip Configuration – klik DHCP maka Ip Address akan terisi secara otomatis.

16. Kita setting router didaerah B. Klik Router – Config – FastEthernet 0/0 – Ip Address 172.168.1.1 – Subnet Mask 255.255.0.0– Port Status On.

17. Selanjutnya kita setting Server C. Klik Server C – Desktop – Ip Configuration – Ip Address 10.10.1.2 – Subnet Mask 255.0.0.0 – Default Gateway 10.10.1.1

18. Kita jadikan Server C sebagai DHCP Server. Klik Server C – Services – DHCP – Service On – Default Gateway 10.10.1.1 – Start Ip address 10.0.0.3 – Maximum number of users 10 – Save

19. Kita setting PC di daerah C. Klik PC4 – Desktop – Ip Configuration – Klik DHCP maka secara otomatis Ip address akan terisi sendiri.

20. Ulangi langkah sebelumnya pada PC5. Klik PC5 – Desktop – Ip Configuration – Klik DHCP maka Ip address akan terisi otomatis.

21. Selanjutnya kita beralih ke Router di daerah C. Klik Router – Config – FastEthernet 0/0 – Ip address 10.10.1.1 -Subnet mask 255.0.0.0 – Port Status On.

22. Maka tampilannya akan seperti gambar berikut. Biar gampang jangan lupa dikasih nama Ip Address di masing-masing Router.

23. Masing-masing port serial akan kita beri Ip Address. Sesuaikan dengan Port serial ke berapa. Kita setting Router A terlebih dahulu. Klik Router – Config – Serial 1/0 – Ip Address 192.168.10.1 – Subnet Mask 255.255.255.0 – Port Status On.

24. Masih di Router A. Klik Router – Config – Serial 1/1 – Ip Address 11.11.11.2 – Subnet Mask 255.0.0.0 – Port Status On

25. Kita beralih ke Router didaerah B. Klik Router – Config – Serial 1/0 – Ip Address 192.168.10.2 – Subnet Mask 255.255.255.0 – Port Status On

26. Masih di Router B. Klik Router – Config – Serial 1/1 – Ip Address 172.16.1.1 – Subnet Mask 255.255.0.0 – Port Status On

27. Selanjutnya Router di daerah C. Klik Router – Config – Serial 1/0– Ip Address 172.16.1.2 – Subnet Mask 255.255.0.0 – Port Status On

28. Masih di Router daerah C. Klik Router – Config – Serial 1/1 – Ip address 11.11.11.1 – Subnet Mask 255.0.0.0 – Port Status On

29. Jika sudah maka tampilannya akan seperti pada gambar berikut. dikasih Ip address di masing-masing port serial biar gampang.

30. Tahap selanjutnya yaitu RIP Routing. Masing-masing router akan kita RIP biar jaringan A bisa terkoneksi dengan jaringan B maupun C dan sebaliknya. Klik Router didaerah A – Config – RIP – Networkisikan semua Ip Gateway dan Ip address yang berada pada port serial. 10.10.1.1 – 11.11.11.1 – 172.16.1.1 – 172.168.1.1 – 192.168.1.1 – 192.168.10.1

31. Lakukan hal yang sama pada Router di daerah B dan C, dengan Ip address yang sama juga. 10.10.1.1 – 11.11.11.1 – 172.16.1.1 – 172.168.1.1 – 192.168.1.1 – 192.168.10.1


32. Untuk mengecheck apakah sudah terkoneksi atau belum, kalian bisa mencoba mengirim file antar PC melalui Add Simple PDU. Atau juga bisa mencoba koneksi melalu Command Prompt dengan meng-ping Ip yang akan dituju.
33. Tutorial Membuat 3 Jaringan dengan 3 Router di Cisco Packet Tracer sudah selesai.



















